
Spanyol datang ke fase gugur Piala Dunia 2026 dengan catatan yang nyaris tanpa cela. Mereka memuncaki Grup H dengan tujuh poin, mencetak lima gol, dan belum kebobolan.
Namun, hasil rapi itu belum sepenuhnya menutup satu ganjalan. Di lini tengah, Luis de la Fuente masih mencari satu pemain yang paling pas untuk mendampingi Rodri dan Pedri.
Kemenangan 1-0 atas Uruguay memperpanjang rekor tak terkalahkan Spanyol menjadi 34 laga. De la Fuente memuji daya tahan timnya, sambil mengakui La Roja didorong “sampai batas”.
Spanyol tetap kuat. Hanya saja, ada tenaga tambahan dari lini kedua yang hilang. Di titik itu, absennya Fermin Lopez mulai terasa.
Satu Pos yang Belum Pasti
De la Fuente sudah mencoba beberapa pilihan sepanjang fase grup. Fabian Ruiz dimainkan pada laga pertama, Dani Olmo pada laga kedua, lalu Mikel Merino pada laga ketiga.
Fabian memberi kontrol. Olmo membawa kreativitas. Merino menawarkan tenaga, duel, dan kemampuan masuk ke kotak penalti.
Semua punya fungsi. Namun, tidak ada yang benar-benar memberi paket seperti Fermin.
Gelandang Barcelona itu datang dari musim yang kuat di level klub. Ia mencetak 13 gol dan membuat 17 assist dari posisi nomor 10.
Sebelum cedera, Fermin menjadi salah satu kartu liar paling menarik untuk Spanyol. Patah tulang metatarsal kelima di kaki kanan membuatnya harus menjalani operasi dan absen dari Piala Dunia.
Bagi Spanyol, kehilangan itu bukan sekadar hilangnya pemain pelapis. Fermin punya tipe permainan yang sedang dibutuhkan De la Fuente.
Ruang yang Biasa Diserang Fermin
Spanyol punya banyak pemain yang bisa mengatur bola. Pedri mengalirkan permainan, Rodri menjaga keseimbangan, sementara Lamine Yamal terus menarik perhatian lawan setiap kali menerima bola.
Yang belum muncul secara konsisten adalah pemain yang menyerang ruang dari lini kedua.
Fermin bukan gelandang yang hanya menunggu umpan di kaki. Ia berani menusuk ke kotak penalti, menekan dengan agresif, dan membuat penguasaan bola berubah menjadi ancaman.
Itu terasa ketika Spanyol menghadapi lawan rapat seperti Cape Verde. Bola bisa terus berputar, tetapi tidak selalu ada pemain yang memaksa bek lawan keluar dari posisi.
Fermin biasa memberi gangguan seperti itu. Ia datang terlambat ke kotak penalti, bergerak di balik perhatian bek, lalu membuat area depan Spanyol lebih hidup.
Menang, tapi Belum Menggigit
Spanyol tetap salah satu kandidat kuat di Piala Dunia 2026. Tim yang memuncaki grup tanpa kebobolan jelas tidak sedang bermasalah besar.
Struktur mereka masih rapi. Kontrol permainan tetap ada. Masalahnya, kontrol itu belum selalu berubah menjadi ancaman yang tajam.
Tanpa Fermin, De la Fuente harus memilih satu dari beberapa kelebihan: ritme Fabian, kreativitas Olmo, atau fisik Merino.
Fermin adalah profil yang paling dekat dengan semua kebutuhan itu.
Spanyol masih bisa berjalan jauh tanpa Fermin Lopez. Namun, di fase gugur, satu pemain yang berani menyerang kotak penalti dari lini kedua bisa menjadi pembeda.
Tulis Komentar
Posting Komentar