
Barcelona bergerak agresif di bursa transfer. Anthony Gordon sudah datang dari Newcastle United. Karim Adeyemi menyusul setelah kesepakatan dengan Borussia Dortmund tercapai di angka 22 juta euro plus bonus. Julian Alvarez masih menjadi mimpi besar untuk posisi nomor sembilan.
Di atas kertas, proyek Hansi Flick terlihat makin mewah. Namun, di balik ramai-ramai belanja penyerang, masalah terbesar Barcelona justru belum tentu ada di depan.
Masalah itu masih ada di belakang.
Serangan bukan keadaan darurat
Alasan Barcelona mengejar Gordon, Adeyemi, dan Alvarez mudah dipahami.
Gordon membawa kecepatan dan intensitas. Adeyemi menawarkan sprint di ruang terbuka, ancaman satu lawan satu, dan gaya vertikal yang disukai Flick. Alvarez, jika bisa didapat, memberi paket lengkap sebagai penyerang tengah: pressing, pergerakan, penyelesaian akhir, dan kerja untuk tim.
Namun, Barcelona bukan tim yang kekurangan gol.
Mereka menjuarai La Liga 2025/26 dengan 95 gol dalam 38 laga, menjadi tim dengan catatan serangan terbaik di liga. Barcelona juga menutup musim dengan selisih gol +59 dan 94 poin.
Jadi masalahnya bukan apakah Gordon, Adeyemi, atau Alvarez bisa membuat Barcelona lebih baik. Mereka jelas bisa.
Pertanyaannya, apakah mereka menyelesaikan masalah yang paling mungkin mengganggu musim Barcelona?
Angka yang menutup masalah
Catatan bertahan Barcelona sekilas tidak buruk. Mereka kebobolan 36 gol di La Liga 2025/26, hanya kalah dari Real Madrid yang kebobolan 35 gol.
Joan Garcia juga menjalani musim pertama yang kuat bersama Barcelona. Ia mencatat 15 clean sheet dan meraih Zamora Trophy.
Namun, angka itu cukup bagus untuk menutupi masalah, bukan untuk menghapus kekhawatiran.
Barcelona era Flick berbeda dari Barcelona 2022/23 di bawah Xavi. Saat itu, Barca hanya kebobolan 20 gol di liga dan membangun gelar lewat kontrol, rest defence, dan obsesi clean sheet.
Di bawah Flick, Barcelona lebih meledak, lebih transisional, dan lebih terbuka. Mereka mencetak lebih banyak gol, tetapi juga memberi lawan lebih banyak ruang.
Di Eropa, risiko itu terasa mahal.
Barcelona kebobolan 24 gol dalam 14 laga Liga Champions pada rentang 2024-26. Tujuh gol datang dalam semifinal melawan Inter Milan, hanya dari 10 tembakan tepat sasaran.
Musim berikutnya, luka itu belum hilang. Barcelona tersingkir di perempat final Liga Champions 2025/26 dari Atletico Madrid setelah kalah 0-2 di kandang dan menang 2-1 di laga tandang.
Dalam duel seperti itu, pembeda bukan sekadar kualitas menyerang. Pembeda utamanya adalah kontrol bertahan.
Butuh lebih dari sekadar jumlah
Ini bukan soal menyalahkan satu bek.
Pau Cubarsi sudah berada di level elite untuk usianya. Ronald Araujo punya kecepatan dan fisik. Andreas Christensen serta Eric Garcia memberi opsi progresi bola. Gerard Martin juga menjadi kejutan setelah bergeser ke bek tengah dan menutup musim lalu sebagai pasangan utama Cubarsi.
Barcelona punya pemain. Barcelona punya profil berbeda.
Namun, itu belum otomatis menjadi unit yang benar-benar solid.
Sistem Flick menuntut bek tengah bertahan di ruang besar, menghadapi transisi, memenangi duel sambil berlari ke arah gawang sendiri, dan tetap tenang saat pressing pertama gagal.
Tuntutan seperti itu tidak cukup dijawab dengan kemampuan mengoper. Barcelona butuh bek tengah yang bisa menaikkan batas kekuatan tim.
Penyerang baru bisa meregangkan lapangan. Striker baru bisa menyelesaikan peluang. Namun, bek tengah kelas atas bisa mengubah wajah Barcelona di Liga Champions.
Jangan salah fokus
Barcelona tidak harus berhenti mengejar kualitas di lini depan. Serangan memang bagian dari identitas klub ini.
Namun, belanja penyerang tidak boleh membuat kebutuhan di pertahanan tersisih.
Gordon, Adeyemi, dan Alvarez bisa membuat proyek Flick lebih berbahaya. Tetapi Barcelona juga membutuhkan bek tengah yang bisa membuat tim lebih aman saat pertandingan mulai terbuka.
Barcelona sempat dikaitkan dengan Alessandro Bastoni. Namun, kabar soal rencana merekrut bek baru mulai mereda dalam beberapa pekan terakhir.
Di situlah risikonya.
Jika terlalu sibuk mempercantik lini depan, Barcelona bisa kembali jatuh pada kesalahan lama: mencetak banyak gol, bermain menarik, lalu dihukum ketika kontrol bertahan menjadi satu-satunya pembeda.
Tulis Komentar
Posting Komentar