Lewati ke konten utama
Perjalanan Ferran Torres hingga Jadi Pahlawan Spanyol
Opini

Perjalanan Ferran Torres hingga Jadi Pahlawan Spanyol

7/22/2026 11:13:00 AM
Bagikan:
Perjalanan Ferran Torres hingga Jadi Pahlawan Spanyol

Menit ke-106. Setelah 20 percobaan gagal memecah pertahanan Argentina, bola akhirnya datang kepada Ferran Torres.

Nico Williams mengirim umpan ke jalur lari Ferran di kotak penalti. Penyerang Barcelona itu menyambutnya dengan setengah voli kaki kiri. Bola masuk.

Spanyol akhirnya memecah kebuntuan di final Piala Dunia 2026. Ferran, pemain pengganti yang bertahun-tahun hidup bersama kritik, menjadi pencetak gol penentu gelar juara dunia.

Penyelesaiannya hanya membutuhkan beberapa detik. Perjalanan menuju momen itu memakan waktu bertahun-tahun.

Lubang tanpa dasar

Ferran bergabung dengan Barcelona dari Manchester City pada musim dingin 2021. Ia baru berusia 21 tahun dan langsung masuk ke klub yang sedang membangun kembali kekuatan di tengah masalah finansial, kelembagaan, dan performa.

Harapan datang dengan cepat. Begitu pula tekanan.

Di Barcelona, satu peluang yang gagal bisa terus dibicarakan setelah pertandingan selesai. Ketika kegagalan berikutnya datang, seorang penyerang tidak lagi hanya berusaha mencetak gol. Ia mulai bermain untuk menghindari kritik berikutnya.

Pada Februari 2023, Ferran membuka masa tersulit dalam kariernya. Setelah Barcelona tersingkir dari Eintracht Frankfurt di Liga Europa musim sebelumnya, ia mengaku kehilangan kepercayaan diri.

“Saya merasa jatuh ke dalam lubang tanpa dasar. Saya belum pernah sehancur itu,” kata Ferran.

Ia akhirnya memutuskan bekerja dengan psikolog. Ferran menyadari dirinya terlalu terobsesi mencetak gol. Gol bukan lagi hasil dari permainan yang baik, melainkan ukuran atas nilai dirinya sebagai pemain.

Perubahan dimulai ketika ia kembali belajar menikmati sepak bola.

Satu gol memang tidak menghapus kecemasan. Trofi juga tidak serta-merta menutup masa-masa sulit. Langkah terpenting Ferran datang jauh sebelum final di New Jersey, saat ia mengakui sedang kesulitan dan membutuhkan bantuan.

Ferran Torres Belajar Menerima Peran

Belajar Menerima Peran

Kebangkitan Ferran tidak terjadi dalam satu malam. Ada latihan, kesempatan singkat dari bangku cadangan, peluang yang gagal, dan pergerakan yang tidak selalu mendapat umpan.

Ia bermain sebagai winger maupun penyerang tengah. Kadang menjadi starter, lebih sering menunggu kesempatan.

Perlahan, keinginannya untuk selalu menjadi pemain utama berganti menjadi kesiapan untuk membantu dalam peran apa pun. Mentalitas yang ia sebut sebagai “Shark mentality” mengembalikan kepercayaan dirinya.

“Saya sangat percaya diri dan berusaha memberikan versi terbaik dalam semua hal yang bisa membantu. Setiap kali berada di lapangan, tidak peduli sebagai starter atau pemain pengganti, saya berusaha memberikan yang terbaik dan membantu,” ujarnya.

Sikap itu menjadi kekuatannya di bawah Hansi Flick.

Hingga Mei 2025, Ferran mencetak 19 gol dan tujuh assist dalam 45 penampilan untuk Barcelona. Ia hanya menjadi starter 19 kali, tetapi menghasilkan satu kontribusi gol setiap 73 menit.

Pada final Copa del Rey 2025, Barcelona tertinggal 1-2 dari Real Madrid ketika Ferran mencetak gol penyeimbang enam menit sebelum waktu normal berakhir.

Barcelona kemudian menang melalui gol Jules Kounde pada menit ke-116. Ferran menutup kompetisi sebagai pencetak gol terbanyak dengan enam gol dan terpilih sebagai pemain terbaik final.

Musim berikutnya, ia mencetak 16 gol saat Barcelona menjuarai La Liga. Ferran berbagi Trofi Zarra dengan Lamine Yamal sebagai pemain Spanyol tersubur di kompetisi. Seluruh golnya tercipta tanpa penalti.

Sebuah pola mulai terbentuk. Ferran tidak selalu mendapat sorotan utama, tetapi tetap siap ketika pertandingan membutuhkan solusi.

Menunggu Kesempatan

Piala Dunia 2026 kembali menguji kesabarannya.

Satu-satunya kesempatan sebagai starter datang pada laga pembuka melawan Cape Verde. Ferran mendapat peluang terbaik Spanyol, tetapi tembakannya dari jarak dekat membentur mistar dalam hasil imbang 0-0.

Ia kemudian mencetak gol sebagai pemain pengganti melawan Arab Saudi. Gol tersebut dianulir karena offside tipis.

Saat menunggu keputusan VAR, kamera menangkap Ferran berbicara kepada dirinya sendiri.

“Tolong, biarkan itu menjadi gol. Tolong...”

Kontribusinya baru tercatat pada babak 16 besar melawan Portugal. Ferran mengirim umpan kepada Mikel Merino, yang mencetak gol kemenangan pada menit ke-91.

Sorotan jatuh kepada Merino. Ferran kembali berada di belakang layar.

Turnamen ini bukan cerita tentang Ferran membawa Spanyol sejak laga pertama. Ia bahkan kembali memulai final melawan Argentina dari bangku cadangan.

Dahulu, status pemain pengganti mungkin akan dianggapnya sebagai penilaian atas kemampuan. Di MetLife Stadium, ia hanya menunggu kesempatan.

Kesempatan itu datang pada menit ke-106.

Ferran berlari ke tempat yang tepat, menerima bola dari Nico Williams, lalu menuntaskan peluang dengan kaki kiri. Bertahun-tahun belajar menerima peran dan menunggu momen berakhir pada satu sentuhan yang membawa Spanyol menjadi juara dunia.

Setelah pertandingan, ia menolak menjadikan gol itu miliknya sendiri.

“Saya pikir gol adalah hal yang paling tidak penting. Pada akhirnya, gol ini milik 47 juta orang, bukan milik saya,” kata Ferran.

Namun, sejarah akan tetap menyimpan namanya.

Gol Ferran Torres di Piala Dunia 2026

Suara yang berubah

Perbandingan dengan Andres Iniesta sulit dihindari.

Pada 2010, Iniesta mencetak gol pada menit ke-116 untuk memberikan gelar Piala Dunia pertama kepada Spanyol. Enam belas tahun kemudian, Ferran mencetak gol pada menit ke-106 untuk menghadirkan trofi kedua.

Keduanya adalah pemain Barcelona. Keduanya mencetak gol penentu pada perpanjangan waktu. Terpisah 10 menit dalam pertandingan dan 16 tahun dalam sejarah.

Sehari setelah final, para pemain Spanyol membawa trofi ke Cibeles. Di tengah perayaan, Rodri meminta perhatian suporter untuk Ferran.

“Hari ini saya ingin mengingat seseorang yang sangat penting bagi kelompok ini dan sangat spesial bagi saya. Dia adalah pemain yang menghadapi banyak kritik tidak adil selama bertahun-tahun, tetapi hari ini menulis ulang bagian dari sejarah sepak bola Spanyol,” kata Rodri.

Lalu, namanya diteriakkan dari kerumunan.

“Ferran... Ferran... Ferran...”

Selama bertahun-tahun, suara di sekitar Ferran berisi kritik tentang harga transfer, peluang yang terbuang, dan apakah ia cukup baik untuk Barcelona maupun Spanyol.

Pada titik terendahnya, semua suara itu masuk terlalu jauh ke dalam pikirannya. Ferran kemudian meminta bantuan dan membangun dirinya kembali, perlahan serta tidak selalu dalam garis lurus.

Sampai akhirnya bola datang pada menit ke-106.

Kali ini, suara yang menyambutnya bukan lagi kritik. Sebuah negara menyanyikan namanya.

Bagikan:

Tulis Komentar